saham PGN kisruh

Detik.finance
Berbeda dengan divestasi lanjutan saham milik pemerintah di perusahaan lain yang berjalan mulus, pelepasan 5,32 persen saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) justru mempertontonkan banyak ‘keanehan’.

Pelaku pasar saham kaget dengan sikap pemerintah yang belum juga mengumumkan hasil divestasi saham PGN hingga Jumat (15/12/2006) pukul 10.00 WIB.

Padahal pemerintah telah menggelar divestasi saham PGN sejak Rabu (13/12/2006) pukul 17.00 WIB. Proses bookbuilding (pengumpulan minat awal) pun sudah selesai dilakukan.

Biasanya hasil divestasi langsung diumumkan saat penutupan pasar hari itu juga. Investor pun mulai menduga-duga ada apa dengan divestasi saham PGN.

Sejumlah sumber detikcom mengakui, ada kisruh dalam penjualan saham PGN kali ini. Masalahnya tak jauh-jauh dari soal harga yang ditawarkan investor.

Penawaran yang masuk melalui PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities dan Credit Suisse di kisaran Rp 11.000 sampai Rp 11.300 per saham.

Harga penawaran ini tidak jauh berbeda dengan penutupan perdagangan saham Rabu (13/12/2006), sebelum saham PGN disuspensi di level Rp 11.300 per saham. Harga tersebut memang masih lebih rendah dari harga tertingginya di level Rp 13.600 per saham.

Namun tiba-tiba ada penawaran yang masuk dari investor Malaysia di level Rp 12.150 per saham dengan syarat mereka mendapat semua saham PGN.

Masalah inilah yang memicu pertentangan diantara pemerintah dan penjamin emisi. Pemerintah dikabarkan menginginkan harga premium dari investor Malaysia, namun Credit Suisse menolak mentah-mentah karena itu berarti mengabaikan permintaan yang masuk melalui prosedur yang benar.

Hingga Kamis malam pukul 22.00 WIB, baik Menneg BUMN Sugiharto, penjamin emisi, pihak PGN dan otoritas bursa memilih tutup mulut karena belum adanya kesepakatan.

Semua pajabat BUMN dan yang terkait dengan divestasi PGN tiba-tiba terserang ‘sakit gigi’. Semuanya menolak memberi penjelasan, bahkan saling lempar saat ditanya para wartawan.

Melihat ribet-nya divestasi PGN, pengamat pasar saham Edwin Sinaga menilai yang menjadi pemicu masalah adalah investor Malaysia.

“Seharusnya mereka membeli melalui jalur yang benar kalau mau nge-bid dengan harga tinggi silahkan tapi sesuai prosedur,” kata Edwin.

Edwin juga menyayangkan sikap pemerintah yang tidak tegas. Pemerintah seolah-olah takut menjual harga dibawah level tertinggi yang pernah dicapai karena akan menjadi sasaran tembak politisi yang menganggap ada potential loss.

“Harusnya pemerintah jalan terus, umumkan saja penawar tertinggi yang melalui prosedur, mereka sudah punya payung hukum jadi jangan takut kena sasaran DPR,” kata Edwin.

Menurutnya, jika investor Malaysia yang dimenangkan justru akan memberikan citra negatif terhadap kepercayaan investor di pasar saham Indonesia, karena pemerintah seolah melegalkan penawaran di luar jalur.

“Jadi umumkan saja penawaran yang benar, lebih baik menjaga iklim investasi dengan risiko harga yang masuk saat ini. Bagaimana pun harga saham itu ditentukan mekanisme pasar,” tegas Edwin. (ir/qom)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: