Memblenya Manajemen Negara Ini…

Memblenya Manajemen Negara Ini…
Kompas.com
Oleh Sri Hartati Samhadi

Rentetan kasus kecelakaan pesawat dan kapal tenggelam beberapa pekan terakhir semakin menunjukkan kepada masyarakat dan dunia luar bagaimana sebenarnya negara ini dikelola dan bagaimana birokrasi di negara ini bekerja.

Jika blunder simpang siur informasi mengenai nasib AdamAir dan kisruh katering jemaah haji belum cukup dianggap sebagai suatu skandal yang memalukan dan menampar muka pemerintah dan bangsa ini, serta dijadikan momentum untuk berubah dan berbenah, memang ada yang salah dengan bangsa ini. Rentetan kecelakaan lalu bisa jadi baru awal dari bencana dan tragedi kemanusiaan yang lebih besar lagi.

Bagi kalangan pengamat transportasi, kecelakaan AdamAir dan tenggelamnya KM Senopati Nusantara sudah tidak mengejutkan lagi dan ibaratnya memang hanya soal waktu.

Kasus-kasus kecelakaan itu hanya manifestasi dan resultan dari berbagai faktor, seperti ketidakpedulian dan kegagalan dari pemerintah dan sistem birokrasi, sikap penyelenggara jasa angkutan yang lebih mendahulukan kalkulasi bisnis ketimbang nyawa manusia, serta sikap dan perilaku masyarakat sendiri yang memang cenderung seenaknya dan menggampangkan segala hal.

Rentetan kecelakaan tersebut ibaratnya membuka lagi borok yang sudah menjadi rahasia umum mengenai buruknya manajemen sistem transportasi nasional dan pelayanan umum. Jika ketersediaan sarana dan prasarana transportasi yang nyaman, aman, terjangkau, dan efisien dipakai sebagai parameter kinerja pemerintah di bidang perhubungan, maka terus meningkatnya jumlah insiden dan frekuensi kecelakaan menunjukkan pemerintah sebenarnya telah gagal.

Di negara lain, mungkin pejabat yang bertanggung jawab bukan hanya dipaksa mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban moral, tetapi juga diproses hukum karena kelalaian dan ketidakmampuannya mengakibatkan nyawa melayang dan masyarakat dirugikan.

Berdasarkan data Departemen Perhubungan, selama kurun 2001-2005 saja terjadi 22 kasus kecelakaan pesawat di Indonesia, dengan jumlah kasus meningkat 75,62 persen per tahun. Selama pemerintahan ini, jumlah kasus naik dari dua kasus (2004) jadi delapan kasus (2005). Untuk tahun 2006, data belum tersedia.

Jumlah insiden seperti pesawat tergelincir atau ban kempis yang meski tidak membawa korban namun bisa mengancam keselamatan penerbangan, ada 96 kasus. Tahun 2004 ada 18 kasus dan 2005 sebanyak 22 kasus. Sementara jumlah yang meninggal, menurut Badan SAR Nasional, melonjak 112,36 persen selama 2001-2005 dan selama pemerintahan ini meningkat dari 14 orang (2003) menjadi 57 orang (2004) dan 161 orang (2005). Tahun ini, dengan hilangnya AdamAir KI 574, setidaknya seratus orang menjadi korban.

Kambing hitam

Sejumlah kasus fatal dan serius beberapa tahun terakhir umumnya melibatkan maskapai bertarif murah. Karena itu, tidak sedikit yang mengaitkan menurunnya tingkat keselamatan penerbangan di Indonesia dengan maraknya maskapai berbudget rendah yang disinyalir sering mengorbankan aspek keselamatan untuk menekan biaya dalam menghadapi persaingan tarif.

Namun, pemerintah sendiri dinilai belum sepenuhnya menjalankan fungsi regulator dan pengawas dengan baik. Ini setidaknya terlihat dari tingginya kasus breakdown of separation dan breakdown of coordination akibat kelalaian dan kesembronoan pengawas lalu lintas penerbangan.

Breakdown of separation, menurut Ketua Ikatan Dosen dan Instruktur Penerbangan Pusdiklat Perhubungan Udara Supriyadi, adalah keadaan di mana jarak pisah antardua pesawat kurang dari standar yang telah ditetapkan dalam prosedur keselamatan lalu lintas udara sehingga menimbulkan potensi tabrakan antarpesawat. Adapun breakdown of coordination adalah keadaan di mana telah terjadi koordinasi yang tak sesuai dengan standar dalam prosedur koordinasi yang ditetapkan atau disepakati antardua unit pengatur lalu lintas udara, yang bisa menimbulkan ancaman tabrakan antarpesawat.

Jumlah kasus breakdown of separation dalam dua tahun terakhir saja meningkat dari 4 kasus (2004) menjadi 40 kasus (2005) dan meningkat rata-rata 224,79 persen selama 2001-2005. Untuk breakdown of coordination berkurang dari 24 kasus menjadi 21 kasus, tetapi tetap saja tinggi.

Kebijakan reaktif

Sudah banyak langkah ditempuh pemerintah untuk memperbaiki aturan terkait aspek keselamatan penerbangan, tetapi kebanyakan kebijakan tersebut hanya bersifat reaktif, parsial, dan implementasinya di lapangan pun sangat lemah seperti diakui sendiri oleh Hatta Rajasa sebagai Menteri Perhubungan.

Pejabat boleh diganti, tetapi mental dan perilaku birokrasi masih sama. Bukan rahasia lagi banyak standar prosedur operasi yang sudah baku dan katanya mengacu pada standar internasional, dalam implementasinya bisa ditabrak, dinegosiasikan, dikompromikan, atau dimainkan. Seperti soal sertifikasi kelaikan terbang, isu adanya oknum Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara yang bisa disuap juga bukan barang baru.

Karena itu, tak heran yang muncul adalah kejadian konyol yang mungkin dalam sejarah penerbangan sipil dunia hanya bisa ditemui di Indonesia. Seperti kasus ban pecah atau ban kempis karena begitu seringnya divulkanisir, bahan bakar avtur yang tercampur air, kelebihan beban.

Atau kasus terakhir yang menghebohkan adalah nyasarnya pesawat AdamAir nomor penerbangan DHI-781 rute Jakarta-Makassar ke Tambulaka, Nusa Tenggara Timur, Februari 2006, dan diterbangkannya kembali pesawat tersebut ke Makassar keesokan harinya tanpa adanya surat izin terbang.

Semua itu pelanggaran serius, yang kalaupun tidak mengakibatkan kecelakaan, berpotensi mengancam nyawa ratusan penumpang. Namun, sejauh ini tindakan yang diambil pihak regulator hanya mencabut lisensi sang pilot, yang ternyata juga staf di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Ini pula yang menjelaskan mengapa sejumlah maskapai yang pernah membuat kesalahan terus-menerus mengulangi kesalahan.

Bisnis penerbangan yang notabene bisnis kepercayaan dan keselamatan juga belum sepenuhnya dikelola secara akuntabel. Contohnya, kasus pesawat Mandala Airlines RI-901 yang jatuh dan meledak seusai lepas landas di Bandara Polonia, Medan, dan menewaskan 149 orang, September 2005.

Pesawat ini dari informasi sejumlah petugas dan saksi mata di sekitar lokasi kecelakaan dikabarkan mengangkut 2 ton durian dan kelebihan beban. Tidak pernah ada klarifikasi atau penjelasan dari pihak berwenang mengenai benar tidaknya isu itu agar kepercayaan masyarakat terhadap penerbangan tidak rusak.

Penerbangan Indonesia juga mencatat beberapa kasus lolosnya barang-barang berbahaya yang bisa mengancam keselamatan ke dalam pesawat, hanya karena adanya pendekatan personal, seperti si pemilik barang dikenal baik oleh petugas sehingga tidak perlu melewati pemeriksaan sebagaimana mestinya.

Kejadian-kejadian itu menunjukkan bisnis penerbangan belum sepenuhnya dikelola secara transparan sehingga naik pesawat ibaratnya menandatangani kontrak mati di atas flying coffin (peti mati terbang).

Dari pihak maskapai penerbangan sendiri, menurut kalangan pilot senior, persaingan yang sengit membuat tidak jarang pilot dan teknisi berada di bawah tekanan manajemen untuk melakukan tindakan tertentu yang bisa membahayakan keselamatan penerbangan. Misalnya, tetap menerbangkan pesawat dalam kondisi tidak laik atau mendaratkan pesawat dalam kondisi yang juga tidak mendukung.

Audit yang pernah dilakukan terhadap beberapa maskapai menunjukkan ada masalah dengan manajemen keselamatan penerbangan, tetapi tidak pernah ada tindakan ekstrem terhadap maskapai, manajemen, atau perorangan yang melanggar.

Fakta bahwa 42 persen kecelakaan pesawat diakibatkan oleh faktor manusia menunjukkan perlu ada perubahan mental dan perilaku dari semua pemangku kepentingan dalam industri penerbangan, di mana disiplin dan menghargai keselamatan nyawa belum dijunjung tinggi.

Cuaca yang dijadikan kambing hitam atas hilangnya pesawat AdamAir kemarin, berdasarkan data statistik, menyumbang tak sampai 5 persen dari penyebab kecelakaan yang terjadi beberapa tahun terakhir. Untuk angkutan darat, faktor ketidakdisiplinan pengguna jalan atau warga bahkan menyumbang 90 persen lebih kecelakaan di jalan raya.

Tak ada kepedulian

Potret serupa terjadi pada angkutan laut. Data Badan SAR, jumlah musibah pelayaran tak berkurang dalam tiga tahun terakhir, yakni 93 kasus (2003), 109 kasus (2004), dan 111 kasus (2005). Jumlah yang tewas meningkat dari 83 orang (2004) jadi 200 orang (2005), belum termasuk yang hilang 138 orang (2004) dan 119 orang (2005).

Tahun 2006 angkanya dipastikan lebih besar lagi karena dari tenggelamnya KM Senopati saja ada sekitar 400 orang yang hingga sekarang masih hilang. Data Ditjen Perhubungan Laut—belum memasukkan KM Senopati—sepanjang 2006 terjadi 118 musibah, dengan jumlah tewas 102 orang dan hilang 174 orang.

Tenggelamnya sejumlah kapal pada pekan terakhir 2006 lebih banyak dikaitkan dengan cuaca. Namun, di sini pun ada gugatan, mengapa kapal roll on roll off yang secara teknis didesain untuk penyeberangan jarak pendek digunakan untuk pelayaran antarpulau dengan jarak tempuh lebih dari delapan jam?

Bagaimana pula dengan ketentuan menyangkut muatan, karena ada informasi tenggelamnya KM Senopati disebabkan muatan buldoser yang miring karena lepas ikatannya. Ini belum lagi bicara kelaikan kapal dan kelebihan penumpang yang sudah bukan lagi persoalan baru dalam dunia bisnis transportasi laut kita.

Persoalan lain menyangkut cuaca adalah terlambatnya dikeluarkan maklumat Menteri Perhubungan untuk tidak memberangkatkan kapal jenis tertentu dalam kondisi cuaca buruk, menyusul peringatan adanya 12 kawasan perairan yang rawan badai dan ombak besar. Akan tetapi, setelah maklumat dikeluarkan pun pelanggaran masih terjadi.

Lagi-lagi kuncinya adalah buruknya disiplin dan koordinasi, dan ini ironis untuk negara kepulauan terbesar di dunia seperti Indonesia, yang angkutan lautnya berperan penting dalam jaringan sistem transportasi nasional.

Bisa dikatakan, bom waktu tinggal menunggu terjadi, terutama jika mengingat tingginya pertumbuhan penumpang yang tahun 2005 saja mencapai 29 juta penumpang lebih untuk angkutan udara dan 14 juta lebih untuk angkutan laut.

Hal serupa terjadi dalam sistem transportasi darat. Kecelakaan kereta api menjadi menu sehari-hari. Demikian pula kecelakaan di jalan raya. Tahun lalu, jumlah yang tewas di jalan raya 30.464 orang. Jumlah ini belum termasuk yang luka-luka 2.550.000 orang. Kerugian ekonomi akibat kecelakaan lalu lintas setiap tahun mencapai 6,032 miliar dollar AS atau 2,91 persen dari produk domestik bruto.

Penegakan hukum

Itu kita baru bicara manajemen pelayanan umum di bidang transportasi, belum di bidang lain. Di Arafah dan Mina, hampir 200.000 anggota jemaah haji kita telantar kelaparan dan terpaksa mengemis-ngemis makanan kepada jemaah haji dari berbagai negara lain, hanya karena pemerintah salah pilih perusahaan katering.

Tidak jarang, bencana buatan manusia terjadi karena pemerintah tidak mampu bersikap tegas atau karena lemahnya penegakan hukum. Contohnya kerusakan hutan yang mengakibatkan bencana alam seperti kekeringan, banjir, dan longsor, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, hingga wilayah-wilayah lain.

Dalam penanganan kondisi darurat, krisis, atau bencana, pemerintah sama parahnya dan selalu kedodoran. Dalam kasus AdamAir, misalnya, tidak ada pernyataan atau tindakan apa pun dari pemerintah dalam beberapa jam pertama yang sangat menentukan. Itu juga terjadi dalam kasus bencana lain, seperti Lapindo. Bahkan, dalam kasus AdamAir pemerintah melakukan blunder yang fatal dengan ikut mengonfirmasikan telah ditemukannya bangkai pesawat dan korban meninggal, padahal informasi itu tidak benar.

Ini contoh kecil tidak berjalannya kepemimpinan dan pemerintahan yang efektif di negara ini, salah satu indikasi dari negara yang gagal (failed state). Tak kunjung ditunjuknya Ketua Pelaksana Harian Bakornas dan tidak adanya respons Presiden terhadap tuntutan pembentukan Dewan Keselamatan Transportasi Jalan adalah salah satu bentuk ketidakpedulian dan tidak adanya kepemimpinan itu.

Nyawa manusia yang melayang dianggap tak lebih hanya statistik. Jika yang terjadi seperti itu, tragedi kemanusiaan yang lebih besar hanya soal waktu.

2 Tanggapan to “Memblenya Manajemen Negara Ini…”

  1. Saya stuju dengan “Memble”nya negara kita dalam menyikapi kemerosotan kualitas keselamatan masyarakat pengguna alat transportasi apa pun di tanah air..
    Tapi dari begitu banyak maskapai penerbangan yang ada di Indonesia, masih ada satu maskapai yang sampai saat ini belum terlibat kasus serius seperti gagal ‘take off’ atau apalah yang bikin ‘ogah’ masyarakat untuk menggunakan maskapai ini. Yang lebih menarik lagi, penawaran harga mereka melalui iklan2 di media itu lho.. sangat, sangat, sangggaaaatt murrrraah!(bikin geleng2 kepala!Tergiur juga siy, tapi ada was2nya juga, hehe..=p)
    Yaah, sekedar ‘sharing’, saya kepingin tau, apakah maskapai ini aman atau sama saja dengan yang lain?
    Kalau dengan harga murah seperti itu saja sudah aman, berarti manajemen perusahaan maskapainya hebat sekali.Ke-jeli-an pemilik maskapai ini patut diacungi jempol, jelas sekali targetnya adalah masyarakat yang mendominasi yaitu menengah ke bawah, dengan mengutamakan keselamatan pelanggannya dia ‘nggak’ perlu meraup untung gede2-an, ‘customer’ pun datang dengan sendirinya…Terlepas dari masalah politik negara kita dengan kewarganegaraan director maskapai tersebut, SALUT!!!

  2. STIE EKUITAS 2007 Says:

    kami mahasiswa ekutas bank jabar bandung, sangat…sangat…setuju klo manajemen negara dalam menangani masalah transfortasi sangat memerlukan perbaikan dalam segala hal.
    hal ini berkaitan dengan penurunan wisatawan asing yang sangat enggan menggunakan fasilitas transfortasi indonesia, sehingga kunjungan wisata menjadi menurun.sehingga pendapatan indonesia semakin melemah dan kepercayaan negara lain kepada indonesia sangat buruk.
    perbaiki dari hal-hal yang kecil dulu, jangan terlalu sibuk memikirkan hal yang besar saja, karena halbesar berasal dari hal- hal kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: