Kini, Giliran Sonar USNS Mary Sears

Ninok Leksono
http://www.kompas.com

Dalam upaya pencarian Boeing 737 AdamAir, selain tim pencari, unsur lain yang mengesankan adalah teknologi. Secara fisik, yang tampak memang armada pesawat yang terdiri dari Boeing 737 Pengintai TNI Angkatan Udara, helikopter Puma, dan pesawat Nomad TNI Angkatan Laut. Armada ini berikutnya diperkuat dengan kehadiran pesawat Fokker F-50 milik Angkatan Udara Singapura, dan Selasa pekan ini datang pula bantuan dari Amerika Serikat berupa kapal United States Navy Ship Mary Sears. Untuk bantuan kapal, BPPT juga mengirim Baruna Jaya.

Masuk akal kalau bantuan didatangkan karena Indonesia memang masih kurang sarana untuk SAR, baik untuk mencakup luas geografi maupun untuk menembus terpencilnya gunung, lebatnya hutan, dan luasnya laut. Sementara Boeing AdamAir amat tersembunyi.

Seperti telah banyak diberitakan, peluang menemukan pesawat dengan memanfaatkan sinyal yang dipancarkan perangkat suar (ELT atau ELBA) rupanya tidak membuahkan hasil hingga kurun hidup baterai yang sekitar 2 x 24 jam terlampaui.

Gagal memanfaatkan teknologi ELBA, upaya pencarian pun lalu dilakukan dengan menggunakan pesawat Fokker F-50 AU Singapura yang tiba di Makassar, Rabu (3/1) malam. Dalam dunia SAR internasional, penggunaan teknologi inframerah untuk mencari korban kecelakaan pesawat bukan hal baru. Paling dikenal dalam upaya ini adalah ketika tim SAR AS menggunakan pesawat berperlengkapan inframerah untuk menemukan pesawat Piper Saratoga yang ditumpangi John Kennedy Jr yang hilang pada bulan Juli 1999. Satuan Pengawal Pantai (Coast Guard) AS waktu itu mengerahkan helikopter yang dilengkapi dengan perlengkapan inframerah untuk menemukan benda-benda dengan suhu yang berbeda-beda. (CNN, 18/7/1999)

Memang inframerah digunakan untuk menangkap pancaran panas yang dikeluarkan oleh obyek. Sejumlah pesawat Kawal Udara AS dilengkapi inframerah yang bisa mendeteksi keberadaan pendaki yang hilang di Gunung Mt Hood di Oregon. Teknologi yang digunakan saat itu adalah scathe view imagery system. Sensor inframerah dipasang pada sebuah turet yang bisa dikontrol dari dalam pesawat dan dihubungkan ke stasiun di darat untuk dianalisis lebih dalam.

Dalam salah satu eksperimen inframerah udara disebutkan, salah satu hal yang menguntungkan dalam pemanfaatan sistem inframerah adalah kalau pesawat naas yang dicari masih cukup hangat setelah dinyatakan hilang. Dengan demikian, tantangan bagi pesawat AU Singapura pun memang tidak ringan, lebih-lebih bila mengingat bahwa efektivitas pencarian inframerah masih bergantung pada sejumlah faktor, seperti jangkauan penglihatan (visibilitas), lebatnya hutan, dan kondisi permukaan bumi. (alaska.com)

Sonar

Dengan petunjuk awal dari kapal perang TNI AL KRI Fatahillah, mulai Selasa (9/1) dilakukan pencarian dengan menggunakan sonar yang ada pada kapal AL AS USNS Mary Sears.

Sonar merupakan sistem yang menggunakan gelombang suara bawah air yang dipancarkan dan dipantulkan untuk mendeteksi dan menetapkan lokasi obyek di bawah laut atau untuk mengukur jarak bawah laut. Sejauh ini sonar telah luas digunakan untuk mendeteksi kapal selam dan ranjau, mendeteksi kedalaman, penangkapan ikan komersial, keselamatan penyelaman, dan komunikasi di laut.

Cara kerja perlengkapan sonar adalah dengan mengirim gelombang suara bawah permukaan dan kemudian menunggu untuk gelombang pantulan (echo). Data suara dipancar ulang ke operator melalui pengeras suara atau ditayangkan pada monitor.

Munculnya sonar tak bisa dilepas dari rintisan tokoh seperti Daniel Colloden yang pada tahun 1822 menggunakan lonceng bawah air untuk menghitung kecepatan suara di bawah air di Danau Geneva, Swiss. Ini kemudian diikuti oleh Lewis Nixon, yang pada tahun 1906 menemukan alat pendengar bertipe sonar pertama untuk mendeteksi puncak gunung es. Minat terhadap sonar makin tinggi pada era Perang Dunia I, yaitu ketika ada kebutuhan untuk bisa mendeteksi kapal selam.

Dalam perkembangan selanjutnya ada nama Paul Langevin yang tahun 1915 menemukan alat sonar pertama untuk mendeteksi kapal selam dengan menggunakan sifat-sifat piezoelektrik kuartz. Meski tak sempat terlibat lebih jauh dalam upaya perang, karya Langevin berpengaruh besar dalam desain sonar.

Alat sonar pertama digolongkan sebagai sonar pasif, di mana tidak ada sinyal yang dikirim keluar. Pada tahun 1918 Inggris dan AS membuat sistem aktif, di mana sinyal sonar aktif dikirim dan diterima kembali. Misalnya saja untuk mengetahui jarak satu obyek, petugas sonar mengukur waktu yang diperlukan oleh sinyal sejak dipancarkan hingga diterima kembali. Karena tidak ada sinyal yang dikirim pada sistem pasif, alat hanya mendengarkan. Pada sistem pasif maju, ada bank data sonik (sumber bunyi) yang besar. Sistem komputer menggunakan bank data tadi untuk mengenali kelas kapal, juga aksinya (kecepatan atau senjata yang ditembakkan).

Sonar—berasal dari SOund, NAvigation and Ranging—merupakan istilah Amerika yang pertama kali digunakan semasa Perang Dunia. Sementara itu, Inggris punya sebutan lain untuk sonar, yakni ASDIC (Anti-Submarine Detection Investigation Committee).

USNS Mary Sears

Seperti disebut di harian ini Selasa kemarin, upaya mendapatkan kepastian tentang spot metal yang dideteksi KRI Fatahillah diharapkan bisa muncul dari kapal AS USNS Mary Sears. Kapal berkode T-AGS-65 ini diluncurkan pada Oktober 2000 dan merupakan kapal survei oseanografi. Nama untuk kapal ini sendiri—Mary Sears (1905-1977)—berasal dari seorang wanita berpangkat commander (letnan kolonel) di AL AS yang dikenal sebagai ahli samudra.

USNS Mary Sears dengan panjang 329 kaki (hampir 100 meter) dan berbobot 4.700 ton diluncurkan dari Galangan Halter Marine di Moss Point, Mississippi, membawa perlengkapan mutakhir untuk mendukung misinya, antara lain sensor dan alat pengambil sampel dan juga perlengkapan seismik.

Kapal yang kini amat diandalkan untuk mendeteksi obyek di bawah laut ini secara khusus dirancang untuk: memetakan dan mempelajari dasar samudra, mengumpulkan sampel air, mengukur sifat akustik perairan tertentu, serta mengolah dan menganalisa data di atas kapal dengan teknologi komputer mutakhir. (National Defense Magazine, April 2001)

Setelah sonar?

Dengan sonar, diharapkan ada kemajuan berarti dalam upaya pencarian jet yang hilang. Tentu masih tersisa pertanyaan, “seandainya saja dengan sonar canggih pesawat belum ditemukan, dengan apa lagi?”

Dari AS, yang memiliki berbagai teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk SAR, satelit termasuk yang diunggulkan. Meski misi utamanya adalah eksplorasi antariksa, Badan Ruang Angkasa AS (NASA) juga punya program membangun sistem radar untuk melihat Bumi, yang bisa mengintip sela-sela pepohonan, awan, dan penghalang lain untuk menemukan pesawat yang hilang, disertai harapan untuk menyelamatkan nyawa (Tech Wednesday, 5/6/2002).

Agar dekat dengan misi yang diembannya, NASA menyebut sistem yang diinginkannya itu SAR (synthetic aperture radar). Radar ini dimaksudkan untuk melengkapi sistem satelit global Cospas-Sarsat yang dirancang untuk mendengarkan suara pesawat jatuh atau orang dalam keadaan darurat.

Radar ini dalam uji coba pernah digunakan untuk menemukan bongkah aluminium—seolah keping badan pesawat—berukuran 1,8 meter x 2,4 meter yang dilempar di area seluas 579 kilometer persegi. Tes di atas dimaksudkan untuk menemukan reruntuk pesawat yang hilang di kawasan dimaksud setahun sebelumnya.

Banyak kalangan yang menaruh harapan pada teknologi SAR ini, lebih-lebih ketika harus menghadapi kasus gelap saat pesawat jatuh lalu—bersama pilot dan penumpangnya—hilang begitu saja. Radar apertur sintetik (SAR) yang bisa menembus pepohonan, semak, dan cuaca buruk diharapkan bisa menemukan reruntuk pesawat yang tak bisa dilihat oleh mata.

Sejak diwacanakan awal dekade ini, pekerjaan yang dilakukan untuk menyempurnakan sistem SAR ini adalah mencari frekuensi paling efektif untuk mencari reruntuk pesawat. Sistem SAR juga diuji untuk berbagai jenis lanskap, seperti gurun, hutan tropis, dan salju, untuk melihat efektivitasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: